Langsung ke konten utama

Postingan

Ngaji Ta’lim dari Dedy Corbuzier, Belajar menyayangi Ibu dari Young Lex

 Sebuah Opini #1 Seberapa sayang kita kepada ibu kita? Semalam saya nonton podcast Om Dedy dan Young Lex terbaru, di awal topik bahasan mereka adalah seorang remaja laki-laki yang memukul-mukul kepala wanita tua dengan cukup keras, parahnya dikontenin dengan begitu PD-nya. Menurut saya siapapun manusia yang sayang ibunya menyaksikan tayangan ini, akan merasakan kesal dan kasihan  secara bersamaan.  Saya tertarik pada salah satu pendapatnya Om Dedy bahwa “Kalo loe gak taat masih gak papa, gak taat artinya beda pendapat, beda pilihan, tapi kalau nggak hormat itu hal yang berbeda.” (yang pernah ngaji Ta’lim Muta’alim pasti familiar dengan kalimat ini, dan memang begitu seharusnya) Tentang ibu, saya tertarik dengan sosok Young Lex. Meski penampilannya yang lebih mirip preman, tapi Young lex ini adalah sosok anak yang dekat dan sayang luar biasa dengan ibunya. Tidak jarang Young Lex kemana-mana selalu mengajak ibunya.  Puncaknya, saat salah satu Youtuber Ferry Irwandi mem...
Postingan terbaru

SHINTA #1

  - SHINTA - /1/ Mumpung masih pagi, ingatanku masih bekerja secara sempurna ... Kemaren aku cerita sampai pada dimana aku mendapat salam dari Shinta. Tentu hal ini satu mengejutkanku, dua membuatku bingung, dan ketiga membuatku bahagia. Seperti normalnya manusia aku katakan "Salam balik." Kawanku yang dititipi salam (sebut saja namanya Zahid) nampak menyiratkan senyum curiga. Setelah aku menitipkan salam kembalian kepadanya untuk Shinta. "Shinta kondo aku. Jane dekne ape tresno karo awakmu. Tapi gak sido, soale keciliken." Wajahku yang semula senyum menjadi tegang, aku tersinggung. Oke, aku tidak menutupi kemungkinan kalau Shinta adalah kakak kelasku. Tapi hal ini tidak seharusnya diucapkan, bukan? Aku menarik napas panjang, kepada Zahid aku mengulurkan senyum sebelum aku pergi meninggalkannya dan meninggalkan perbincangan tentang Shinta. /2/ Besoknya, saat jam istirahat Zahid dan satu temannya (sebut saja Zuhud). Mendatangiku di ...

PROLOG

  P E R T E M U A N Juli | 2012 Aku lupa tanggal persis pertemuanku dengan dia terjadi. Sisa tanda yang kuingat adalah, saat itu matahari sudah lebih dahulu rukuk ke barat. Saat kakiku turun dari Bus jurusan Surabaya-Bojonegoro. Liburan puasa telah tiba, sisa hari-hari bahagia menyambut hari raya. Aku sengaja tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir dulu ke rumah teman yang masih satu kabupaten. Baru beberapa langkah kakiku turun dari bus, dengan pandangan mata yang masih menunduk membetulkan tas yang penuh pakaian ganti. Sepintas suara perempuan menyapa kami. Aku masih belum melihatnya, aku masih sibuk dengan diriku yang lusuh sehabis naik bus. Suara itu masih saling sapa menyapa dengan temanku. Sampai aku mengangkat muka, dan mataku tepat mengarah ke seorang perempuan mengenakan kaos putih bahu pendek yang serasi dengan kulitnya yang bening. Dengan rambut yang ditali sembarangan, hingga beberapa helai tergerai di antara wajahnya yang .... (Aduh). Perempuan itu menunggang sebu...

KOMPLIKASI MIMPI

  Mimpi yang sangat kompeleks .... Di adegan pertama, Aku memohon kepada bapak dan ibuk untuk mengkhitabkan seorang perempuan sebut saja namanya An. An di sini adalah perempuan yang pernah aku sayangi waktu di pondok. Yang kemudian karena alasan kecil kami berpisah. Tapi di dalam mimpi itu aku dan keluargaku melamar An. Aku dan An begitu bahagia, tukar cincin pun kami laksanakan tanpa keraguan dan rasa ingin segera menikah. Selepas acara lamaran, rombongan keluargaku pun pulang. Beberapa hari setelah lamaran aku diselimuti rasa gelisah dan bersalah. Karena saat melamar An, aku sedang punya hubungan dengan perempuan bernama Dea. Aku menjadi sangat kepikiran tentang Dea Bagaimana nanti jika Dea tahu kalau aku sudah melamar seseorang, bagaimana perasaannya, dan rasa bersalah lainnya. Setelah itu tiba-tiba adegan dalam mimpiku, berubah menjadi. Saat dimana aku sedang membuka sebuah album foto. Di samping adik perempuanku sendiri yang sedang berbincang melingkar dengan teman-temannya. A...

Gugur Sebelum Merekah

  “Abah, Roya izin kepingin ikut ngaji Diniyah, kulo kangen diajar kaleh Yai Wakhid!” “Iya, Nduk.” Aku selalu bahagia saat pulang dari pondok. Bukan hanya karena bisa membayar lunas hutang rinduku pada Abah dan Umi. Melainkan juga rindu kepada para guru-guruku sewaktu Madrasah Tsanawiyah dahulu. Yai Wakhid salah satunya, guru Aqidatul Awam yang sangat kukagumi. Kesabaran beliau, keluasan ilmu beliau, dan keramahan saat beliau menerangkan. Aku sudah bertanya kepada mbak pengurus kelas Diniyah, mana yang hari ini ada Yai Wakhidnya, ke situlah aku kini melangkah. Seisi kelas berdiri saat aku datang, aku menyalami mereka satu persatu. Meminta izin untuk gabung di kelas ini. “ Nggih, silahkan Ning Roya.” “ Maturnuwun sanget sederengpun Mbak-mbak. [1] ” Hatiku benar-benar telah tidak sabar melihat wajah Yai Wakhid, bagaimana kini beliau, apakah masih segagah dulu perawakannya. Masih sesegar dulu lawakannya. Aku menunggu kedatangannya. Pupus harapanku, saat yang masuk ...

WIS UDAH

  WIS UDAH Karya: Alief Irfan Choiri Kita selamanya akan menyandang gelar pelajar, selama kita masih mau belajar. Jika ada yang menertawakan dan meremehkan cita-citamu yang terlalu tinggi. Tenang saja, ilmu mereka terlalu rendah untuk mengukur mimpimu. Selamat atas kelulusan kalian hari ini, selamat untuk nama-nama yang berprestasi. Selamat juga untuk yang sedang mengukir prestasi. Saya percaya kalian hebat dengan cara masing-masing. Terimakasih atas canda tawa kalian selama tiga tahun terakhir. Kami mengenangnya sebagai tanda rasa cinta. Nama kalian mungkin tidak akan ada lagi di buku absen. Namun tidak akan pernah alpa dalam setiap untaian doa. Mungkin akan jarang untuk kita bertatap muka satu sama lain, namun harapan kami tetap sama. Ingin yang terbaik untuk kalian. #Mtsmanbailhuda

JATUH dan HUJAN

JATUH dan HUJAN Karya: Alief Irfan Choiri Ada hujan yang jatuh tatkala mentari mulai terbenam Ada air mata yang luruh saat cinta mulai tenggelam Engkau yang pertamakali membuatku percaya untuk jatuh cinta lagi. Engkau pun yang mengajari jatuh untuk yang kesekian kali. Kini di mana aku menyelamatkan cinta, jika setiap tanah, tempatku menanam senantiasa, hanya menumbuhkan luka. Perih yang belum sembuh, kini kembali kambuh. Oleh sayatan beling tak berperasaan. Kecewa yang belum sepenuhnya reda, kini dibilas oleh orang paling ku percaya. Garam yang ditabur dengan sengaja di atas luka. Salahku, masih percaya manusia. Jenu, 16 Juni 2020