Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

JATUH dan HUJAN

JATUH dan HUJAN Karya: Alief Irfan Choiri Ada hujan yang jatuh tatkala mentari mulai terbenam Ada air mata yang luruh saat cinta mulai tenggelam Engkau yang pertamakali membuatku percaya untuk jatuh cinta lagi. Engkau pun yang mengajari jatuh untuk yang kesekian kali. Kini di mana aku menyelamatkan cinta, jika setiap tanah, tempatku menanam senantiasa, hanya menumbuhkan luka. Perih yang belum sembuh, kini kembali kambuh. Oleh sayatan beling tak berperasaan. Kecewa yang belum sepenuhnya reda, kini dibilas oleh orang paling ku percaya. Garam yang ditabur dengan sengaja di atas luka. Salahku, masih percaya manusia. Jenu, 16 Juni 2020  

Paripurna

Penyair Telah Mati Sudah lama jemariku pensiun menulis puisi Menanggalkan setiap diksi yang pernah kukemas rapi Membiarkan kata-kata mencari jati dirinya sendiri-sendiri Sejak sajak sudah tidak mau kutata Sejak anak kalimat berani membangkang induk kalimat Sejak pernyataan telah mengkhianati arti Aku menghilang dirimbun huruf buku Sesekali belajar lagi menghidupkan kalimat mati Menyambangi setiap majas yang berkenan kuajak berpuisi kembali Semua mengeluh menyatakan nyerah Dengan dalih tema yang kugagas sudah tak sebagus dulu Ketika masih ada namamu disela tutur tulisku Nyatanya kata-kata lebih mencintaimu dari pada aku Bagi mereka, kaulah kesejatian yang asli Seperangkat indah yang tak pernah bisa diwarisi Kelengkapan yang tak akan pernah tergantikan Ruh yang wajib merasuk pada tiap tulisan Tanpamu kutanggalkan jubah kebesaranku sebagai penyair Sesekali menimbun air mata sekedar untuk menyambung hidup Demi bisa menyambutmu pulang Masuk kembali kedalam ruang Yang p...

Puisi Aliev Irvan - ISTIRAHAT

Capek, istirahat! oleh: Alief Irvan Sementara biarkan aku diam Tenggelam dalam masalah Memadu mentari dengan nasibku sendiri Kau tak usah risau apalagi merasa tak enak hati Hal seperti ini sangat wajar dalam perjalanan mencari secercah arti Diantara aku dan kau sudah ada kesepakatan Kita tinggal berpegang teguh pada tali kasih yang pernah terujar Karena fajar akan tiba pada waktunya Sebab malam akan hilang pada saatnya Sesekali biarkan rongga dadaku tidak melulu tentang rindu Biarkan dia berisi sesak problema yang menjadikanku lebih dewasa Biarkan hari-hariku tidak selalu tentang balas pesanmu Biarkan cemarut ikut campur dalam membentuk pribadiku Kini telah kutanggalkan semua tentang rasa semu padamu Hanya satu nyala yang kubiarkan berpijar : Keyakinan akan takdir bersamamu. Jalan kita masih terbentang jauh Bekal kita masih belum cukup untuk menempuh Kita bukan puisi yang selamanya harus indah seirama Kita kepingan mantra yang perlu ditata dengan hati-hati...