Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Gugur Sebelum Merekah

  “Abah, Roya izin kepingin ikut ngaji Diniyah, kulo kangen diajar kaleh Yai Wakhid!” “Iya, Nduk.” Aku selalu bahagia saat pulang dari pondok. Bukan hanya karena bisa membayar lunas hutang rinduku pada Abah dan Umi. Melainkan juga rindu kepada para guru-guruku sewaktu Madrasah Tsanawiyah dahulu. Yai Wakhid salah satunya, guru Aqidatul Awam yang sangat kukagumi. Kesabaran beliau, keluasan ilmu beliau, dan keramahan saat beliau menerangkan. Aku sudah bertanya kepada mbak pengurus kelas Diniyah, mana yang hari ini ada Yai Wakhidnya, ke situlah aku kini melangkah. Seisi kelas berdiri saat aku datang, aku menyalami mereka satu persatu. Meminta izin untuk gabung di kelas ini. “ Nggih, silahkan Ning Roya.” “ Maturnuwun sanget sederengpun Mbak-mbak. [1] ” Hatiku benar-benar telah tidak sabar melihat wajah Yai Wakhid, bagaimana kini beliau, apakah masih segagah dulu perawakannya. Masih sesegar dulu lawakannya. Aku menunggu kedatangannya. Pupus harapanku, saat yang masuk ...

Ketiban Sampur

Sebuah angkot hijau pupus jurusan Pangkur, terus melaju menembus kemacetan di bawah teriknya siang. Penumpang yang sesak menciptakan perpaduan aroma keringat dan bau ikan laut yang begitu menggangu pernafasan, seorang gadis duduk di bangku tengah menutup rapat mulutnya dengan ujung kerudung. Kepalanya terasa semakin pening, mendengar gemuruh suara emak-emak pedagang ikan dan penumpang lain. “Kiri Pak!” Teriaknya tidak sabar ingin segera turun di sebuah pertigaan jalan menuju Kecamatan Maskumambang. Sang gadis lalu mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan, menyerahkannya kepada kernet yang sedari tadi menggantung di pintu angkot. Setelahnya, angkotpun kembali mengebut kencang, membuat sang gadis seperti seorang pesulap yang tiba-tiba muncul dibalik asap tebal dengan terbatuk-batuk. Di sebrang jalan segerombolan pemuda mengenakan sarung dan peci hitam, sedang duduk jongkok di sebuah warung kopi, ditanganya ada beberapa lembar kartu remi, wajah clontengan tepung, dan...

KANG

- KANG - " Ajari aku tertawa di atas penderitaanku sendiri" Malam ini alun-alun Tuban dibanjiri manusia. Mereka semua antusias menyaksikan dan mendengarkan penampilan para peserta lomba Festifal Al-Banjari, yang diadakan setiap tahun dalam rangakain hari jadi Kabupaten Tuban. Nomer urut terakhir adalah grup Al-Ladin, grup sholawat banjari yang paling dinantikan penampilannya, dua tahun sudah mereka menjadi juara bertahan, dan jika malam ini penampilan mereka kembali merebut hati para juri, maka tahun depan mereka tidak diperkenankan mengikuti festival lagi. Melainkan akan diundang sebagai bintang tamu, sesuai keputusan panitia festival, juara bertahan tiga tahun berturut akan menjadi bintang tamu di festival tahun berikutnya. “Tepuk tangan yang meriah untuk peserta kita pada malam hari ini, Al-laadiiin … Tafadhol!” seruan MC yang disusul tepuk tangan membahana dari semua fans grup Al-Ladin. Dengan takzim anggota grup Al-Ladin menaiki panggung, memberi ho...