“Abah, Roya izin kepingin ikut ngaji Diniyah, kulo kangen diajar kaleh Yai Wakhid!” “Iya, Nduk.” Aku selalu bahagia saat pulang dari pondok. Bukan hanya karena bisa membayar lunas hutang rinduku pada Abah dan Umi. Melainkan juga rindu kepada para guru-guruku sewaktu Madrasah Tsanawiyah dahulu. Yai Wakhid salah satunya, guru Aqidatul Awam yang sangat kukagumi. Kesabaran beliau, keluasan ilmu beliau, dan keramahan saat beliau menerangkan. Aku sudah bertanya kepada mbak pengurus kelas Diniyah, mana yang hari ini ada Yai Wakhidnya, ke situlah aku kini melangkah. Seisi kelas berdiri saat aku datang, aku menyalami mereka satu persatu. Meminta izin untuk gabung di kelas ini. “ Nggih, silahkan Ning Roya.” “ Maturnuwun sanget sederengpun Mbak-mbak. [1] ” Hatiku benar-benar telah tidak sabar melihat wajah Yai Wakhid, bagaimana kini beliau, apakah masih segagah dulu perawakannya. Masih sesegar dulu lawakannya. Aku menunggu kedatangannya. Pupus harapanku, saat yang masuk ...