Langsung ke konten utama

Sehidup Senampan



Kita pernah tanding satu arena
Tangan kita pernah meraup nasi yang masih mengepulkan asap panas, pada nampan yang sama.
Makan sepotong daging sapi yang digigit silih berganti
Tak mungkin dipungkiri ludah kita yang aromanya bheneka pernah tunggal ika.
Momen seperti ini memang sering terjadi, namun tetap terjalin mesrah.
Mungkin cinta antar sesama ini, yang terkadang membuat lupa memikirkan igo wekase dewe-dewe.
Sebenarnya ...
Dalam relung batin kita paling dalam, kita tidak pernah siap untuk menjadi dewasa.
Bagi kami
Dewasa terlalu monoton, terlalu banyak pertimbangan, terlalu ruwet bin bulet.
Namun bagaimanapun kita juga sadar, masa aktif kebebasan seperti ini cepat atau lambat pasti akan habis.
Dan pada akhirnya kita akan dihadapkan dengan pulang, larung bersama masyarakat tempat kita tinggal.
Tergantung kita, pinter-pinteran mecari alasan agar tidak disuruh orang tua pulang dengan segera.
Wkwkwkw ....
Aliefirfan,_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngaji Ta’lim dari Dedy Corbuzier, Belajar menyayangi Ibu dari Young Lex

 Sebuah Opini #1 Seberapa sayang kita kepada ibu kita? Semalam saya nonton podcast Om Dedy dan Young Lex terbaru, di awal topik bahasan mereka adalah seorang remaja laki-laki yang memukul-mukul kepala wanita tua dengan cukup keras, parahnya dikontenin dengan begitu PD-nya. Menurut saya siapapun manusia yang sayang ibunya menyaksikan tayangan ini, akan merasakan kesal dan kasihan  secara bersamaan.  Saya tertarik pada salah satu pendapatnya Om Dedy bahwa “Kalo loe gak taat masih gak papa, gak taat artinya beda pendapat, beda pilihan, tapi kalau nggak hormat itu hal yang berbeda.” (yang pernah ngaji Ta’lim Muta’alim pasti familiar dengan kalimat ini, dan memang begitu seharusnya) Tentang ibu, saya tertarik dengan sosok Young Lex. Meski penampilannya yang lebih mirip preman, tapi Young lex ini adalah sosok anak yang dekat dan sayang luar biasa dengan ibunya. Tidak jarang Young Lex kemana-mana selalu mengajak ibunya.  Puncaknya, saat salah satu Youtuber Ferry Irwandi mem...

WIS UDAH

  WIS UDAH Karya: Alief Irfan Choiri Kita selamanya akan menyandang gelar pelajar, selama kita masih mau belajar. Jika ada yang menertawakan dan meremehkan cita-citamu yang terlalu tinggi. Tenang saja, ilmu mereka terlalu rendah untuk mengukur mimpimu. Selamat atas kelulusan kalian hari ini, selamat untuk nama-nama yang berprestasi. Selamat juga untuk yang sedang mengukir prestasi. Saya percaya kalian hebat dengan cara masing-masing. Terimakasih atas canda tawa kalian selama tiga tahun terakhir. Kami mengenangnya sebagai tanda rasa cinta. Nama kalian mungkin tidak akan ada lagi di buku absen. Namun tidak akan pernah alpa dalam setiap untaian doa. Mungkin akan jarang untuk kita bertatap muka satu sama lain, namun harapan kami tetap sama. Ingin yang terbaik untuk kalian. #Mtsmanbailhuda

Paripurna

Penyair Telah Mati Sudah lama jemariku pensiun menulis puisi Menanggalkan setiap diksi yang pernah kukemas rapi Membiarkan kata-kata mencari jati dirinya sendiri-sendiri Sejak sajak sudah tidak mau kutata Sejak anak kalimat berani membangkang induk kalimat Sejak pernyataan telah mengkhianati arti Aku menghilang dirimbun huruf buku Sesekali belajar lagi menghidupkan kalimat mati Menyambangi setiap majas yang berkenan kuajak berpuisi kembali Semua mengeluh menyatakan nyerah Dengan dalih tema yang kugagas sudah tak sebagus dulu Ketika masih ada namamu disela tutur tulisku Nyatanya kata-kata lebih mencintaimu dari pada aku Bagi mereka, kaulah kesejatian yang asli Seperangkat indah yang tak pernah bisa diwarisi Kelengkapan yang tak akan pernah tergantikan Ruh yang wajib merasuk pada tiap tulisan Tanpamu kutanggalkan jubah kebesaranku sebagai penyair Sesekali menimbun air mata sekedar untuk menyambung hidup Demi bisa menyambutmu pulang Masuk kembali kedalam ruang Yang p...